Tuesday, November 23, 2010

Lubang Jepang di Bukittinggi

Terletak di dalam kawasan Objek wisata Taman Panorama Bukittinggi, Sumatera Barat. Lubang Jepang merupakan objek wisata yang juga merupakan bukti sejarah penjajahan Jepang di Indonesia. Sebuah terowongan bawah tanah yang dibangun untuk kepentingan militer Jepang pada masa Perang Dunia-II; atas perintah Pemerintahan Militer Angkatan Darat Jepang untuk wilayah Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi di bawah komando Jendral Watanabe. Jadi, jika anda berkunjung ke Bukittinggi jangan lupa mengunjungi Taman Panorama dan menelusuri lorong demi lorong dalam Lubang Jepang ini. Keberadaan lubang yang dalam membangunnya sengaja disamarkan, tidak terlihat dari pinggir jalan raya (dari luar taman). Bahkan ketika berada di dalam Taman Panorama, tidak serta merta pintu masuk lubang terlihat kecuali jika berdiri di sekitar mulut lubang.

Untuk masuk ke dalam lorong lubang Jepang, terlebih dahulu harus menuruni 132 anak tangga yang mempunyai kemiringan cukup vertikal. Tangga semen ini dibagi menjadi dua jalur yang dibatasi dengan stainless steel, sehingga terasa lebih nyaman untuk dituruni. Satu sisi ditujukan buat pengunjung yang ingin masuk ke dalam dasar terowongan Lubang Jepang. Sementara sisi lainnya merupakan tangga keluar terowongan. Kedalaman lubang diperkirakan sekitar 40 m dari permukaan tanah. Sedangkan panjangnya  lebih kurang 1.470 m. Lorong di dalam terowongan lebarnya sekitar 2 m. Suasana di dalam lubang cukup terang karena telah dilengkapi dengan penerangan listrik yang cukup memadai. Dinding-dinding terowongan juga tidak terlihat suram karena telah dilapisi oleh semen; bahkan sebagian lantainya telah dipasang paving block (seperti terlihat dalam gambar).

Karena alasan keamanan, lorong yang mengarah persis ke sisi jurang Ngarai Sianok, ditutup dengan terali besi. Mulut lorong tersebut hanya berjarak beberapa meter dari sisi jurang. Ada juga lorong yang menuju ke pintu darurat (emergency exit). Sepanjang kiri dan kanan dalam lorong-lorong, terdapat ruangan-ruangan yang jumlah keseluruhannya hingga 21 ruang, terdiri dari:
- Ruang Amunisi
- Dapur
- Penjara
- Ruang Makan
- Barak tentara, dll

Pemerintah Kota Bukittinggi berencana untuk memanfaatkan beberapa ruangan di lorong-lorong ini untuk dijadikan sebagai kafe, mini teater, museum dan lain sebagainya. Jika boleh berpendapat, dengan kacamata saya sendiri sebagai pengunjung dan juga orang awam, memandang Lubang Jepang sebagai bukti sejarah yang harus dilestarikan. Mungkin akan lebih baik jika dibiarkan seperti semula, namun tetap dengan perawatan yang memadai. Tanpa mengalih fungsikan dari keadaan semula, ruangan-ruangan tersebut akan memberi gambaran yang cenderung lebih natural. Sehingga setiap pengunjung bisa mengetahui dengan jelas fungsi awal dari masing-masing ruangan ini.

Saya sependapat dengan Bapak Ed Zoelverdi dalam situs beliau, yaitu edzoelverdi.com, bahwa untuk membuat Lubang Jepang sebagai objek wisata, perlu dilengkapi dengan data riset yang akurat. Dengan begitu dapat memperkaya khazanah pengetahuan publik secara sahih. Setidaknya informasi tentang sejarah, fungsi ruangan demi ruangan, juga gambaran lengkap tentang fungsi ruangan pada awalnya. Dalam situs Bapak Ed Zoelverdi juga dimuat tulisan Hirotada Honjyo yang berkebangsaan Jepang, bahwa tidak ada kerja paksa dalam penggalian Lubang Jepang, melainkan dalam pembangunannya, dikerjakan oleh para pekerja yang didatangkan dan disediakan oleh Kantor Kotapraja Bukittinggi. Untuk itu, mereka dibayar sebagai buruh harian.

Hal tersebut tentunya sangat berseberangan dengan asumsi kebanyakan yang berpendapat bahwa pembangunan lubang menggunakan tenaga kerja paksa rakyat Indonesia oleh pemerintah Jepang pada masa itu. Pekerjaan rumah bagi kita untuk menggali kebenaran akan sejarah yang lebih lengkap dan akurat; sehingga tulisan Hirotada San ini bisa terbantahkan atau sebaliknya dibenarkan bila disertai dengan bukti-bukti sejarah yang jelas.

Satu lagi pertanyaan yang tidak saya temukan jawabannya, yaitu hilangnya/dihapusnya relief yang terdapat pada dinding sebelum masuk terowongan. Relief pada dinding ini memberi sedikit gambaran sejarah tentang kekejaman Jepang dalam penggalian Lubang. Adakah kepentingan atau kesalahan pada relief-relief tersebut sehingga harus dihilangkan? Atau kita yang disebut sebagai bangsa pemaaf merasa tidak perlu lagi mengetahui gambaran sejarah tersebut? Mungkin ada di antara pembaca yang bisa memberi beberapa masukan dan informasi tentang sejarah lengkap Lubang Jepang ini... sebelumnya terima kasih atas bantuan dan masukannya.

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan copy paste dan jangan lupa mencantumkan sumbernya

3 komentar:

novel said...

terimaksi atas informai nya.. saya mersa terbantu dalam bikin tugas say,,
smga Allah membalas smua kbaikannya,, Aaminn... ^__^

information system said...

pengalaman di lubang jepang sunggunh menarik

bloggER.nu.segER said...

ijin copas pak untuk tugas saya ..
artikel ini membantu banget..
makasih ya pa :)

Post a Comment

Pembaca yang budiman tentunya masih banyak kekurangan dengan artikel yang saya tulis ini. Sehingga saya akan sangat senang dan berterima kasih dengan saran, pertanyaan maupun kritik yang membangun. SAYA TUNGGU KOMENTAR PEMBACA SEMUA...