Wednesday, February 16, 2011

Nikmatnya Kopi Kawa di Jalur Hijau Batusangkar-Sumatera Barat

Melintas jalan raya Kota Batusangkar-Bukittinggi rutin saya lakukan setiap akhir pekan untuk melanjutkan study. Sabtu pagi menjelang matahari terbit, saya memulai hari. Dengan bermotor, saya tempuh jarak lebih dari 100 km, antara Padang Sibusuk (rumah saya) menuju kota Bukittinggi. Udara dingin menggigit tulang sumsum tatkala embun pagi membasahi wajah saya. Bahkan, saking tebalnya kabut membuat jalanan hanya terlihat dalam radius beberapa meter.

Memasuki kota Batusangkar, hangat mulai merayap seiring matahari terbit. Pagi yang cerah selalu menampakkan pemandangan yang
menawan.  Di kiri dan kanan jalan, sawah-sawah berjenjang (rice terrace) terlihat menghijau dengan latar Gunung Merapi. Walaupun hampir setiap Sabtu dan Minggu lewat, saya tak pernah bosan dengan pemandangan di sepanjang jalan ini. Bisa dikatakan "here really my favourite place". Gambar di atas saya abadikan ketika berhenti sejenak; beristirahat sambil menikmati udara segar dan melihat sawah-sawah sejauh mata memandang.

Beberapa kali, saat perjalanan pulang yang lebih santai, saya sempatkan mampir di kedai-kedai pinggir jalan untuk mencoba menu khas daerah setempat. Warung yang di depannya terpampang plang bertuliskan "Pondok Goreng Kawa Daun", saya singgahi pada suatu sore. Awalnya, tidak ada bayangan sama sekali akan makanan yang ditawarkan; hanya terdorong rasa penasaran dengan kalimat "kawa daun" membuat saya nekat masuk ke warung di jalur hijau tersebut.

Kawa daun adalah sejenis minuman beraroma kopi. Uniknya, bukan terbit dari biji kopi, melainkan daunnya. Menurut informasi dari penjualnya, tidak semua jenis daun kopi bisa dimanfaatkan untuk membuat kopi kawa. Hanya daun kopi jenis tertentu yang ditanam di daerah ini yang biasa digunakan untuk membuat kopi kawa. Sebelum siap diseduh menjadi minuman, daun dikeringkan terlebih dahulu dengan cara menyangrai. Sedangkan untuk mendapatkan daun kopi yang relatif kering, dibutuhkan waktu penyangraian yang cukup lama, hampir setengah hari, yaitu kurang lebih 11 s/d 12 jam. Dan untuk membuatnya menjadi minuman, daun yang sudah kering direbus bersama air hingga mendidih.

Cara penyajian kopi kawa pun tak kalah unik. Bukan dituang dalam gelas seperti layaknya kopi, namun disajikan mengunakan wadah yang terbuat dari tempurung kelapa; disangga dengan tatakan bambu setinggi kira-kira 10 cm. Cemilan pendamping kopi kawa adalah aneka gorengan, seperti goreng pisang, bakwan dan tahu isi. Udara Batusangkar yang dingin, membuat perut terasa keroncongan. Namun, gorengan yang disajikan cukup lumayan untuk mengganjal perut. Begitu menyeruput kopi kawa, rasa hangat mengalir di kerongkongan...hmm nikmat.

Di sekeliling pondok kopi kawa didominasi oleh hamparan persawahan. Sore itu, sekelompok petani tradisional masih nampak sibuk menggarap padi sambil bersenda gurau. Dari dalam warung, Gunung Merapi juga bisa terlihat dari kejauhan. Sejenak terlepas rasa lelah selama perjalanan ketika melihat suasana menghijau dalam nuansa pedesaan yang masih kental. Tentunya keadaan seperti ini, sudah jarang ditemui bagi anda yang bermukim di kota besar, terutama di pulau Jawa. Pingin coba? Ayo...Saya siap mengantar anda...

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan copy paste dan jangan lupa mencantumkan sumbernya

4 komentar:

Padang Ekspres said...

Mantap!

Anonymous said...

bro ada info gak tentang distributor daun kopi kering? gw rencananya mau buka bisnis tentang kopi kawa di surabaya kalo ada hub gw di shinichi.kun89@gmail.com

thanks bro

Ebik Dei said...

bolehkah saya copas artikel ini buat blog kopi saya??
http://cappucinoletter.com

Yasmen caniago said...

@Shinichi: Saya usahakan cari tahu dulu informasi distributor mengenai daun kopi kering ini

@Ebik:Ok Silahkan di copas

Post a Comment

Pembaca yang budiman tentunya masih banyak kekurangan dengan artikel yang saya tulis ini. Sehingga saya akan sangat senang dan berterima kasih dengan saran, pertanyaan maupun kritik yang membangun. SAYA TUNGGU KOMENTAR PEMBACA SEMUA...